Pengertian Pendidikan


goods

mitsurika Azura

Diposkan Oleh sariah Tanggal 22 Mei 2014

Gambar

Pengertian Pendidikan

1. Ahmad D. Marimba

          Pendidikan adalah bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuknya keperibadian utama menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku. Keperibadian utama adalah keperibadian yang sesuai dengan nilai-nilai kependidikan (Salahudin, 2011:20).

 

2. G. thompson (1957)

        Pendidikan

Lihat pos aslinya 170 kata lagi

Dipublikasi di tafsirilmu | Meninggalkan komentar

Ramadhan bulan penuh Pahala


Ramadhan bulan persemaian. Karena persemaian, maka hasil kongkritnya tidak diperoleh pada saat ramadhan, tetapi akan nampak dalam kehdupan selama 11 bulan berikutnya, dari Syawwal – Sya’ban. Apabila amaliah seseoarng di bulan-bulan setelah Ramadhan meningkat dibandingkan sebelum Ramadhan, maka itulah hasil kongkrit dari penggemblengan di bulan Ramadhan. Tetapi, jika amaliah di bulan-bulan setelah Ramadhan tidak mengalami peningkatan, maka Ramadhan pada saat itu belum memberikan dampak positif terhadap dirinya.
 
Ramadhan artinya pembakaran. Yang dimaksud dengan ungkapan ini adalah pembakaran dosa-dosa seseorang apabila dia dapat memanfaatkan momentum Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah menyatakan: “Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan pelebur dosa-dosa di antara semuanya, apabila dijauhi dosa-dosa besar” (HR. Muslim).

 

 

Tentu hal ini tidak terjadi secara otomatis,  tetapi membutuhkan upaya sungguh-sungguh dalam rangka memanfaatkan momentum-momentum tersebut sehingga memperoleh hasil maksimal sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits di atas. Hanya orang-orang yang berusaha keras mengisi amaliah Ramadhanlah yang dapat merasakan nikmatnya Ramadhan, sehingga dapat memetik hikmah luar biasa dari kehidupannya di bulan ramadhan.
 
Untuk menjadi orang baik di bulan Ramadhan tidak terlalu susah, sebab situasinya sangat kondusif. Pahala setiap amal dilipatgandakan sangat besar, majlis-majlis ta’lim dibuka sangat luas, da’wah dapat dijumpai di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, ceramah-ceramah agama diselenggarakan di berbagai tempat, rumah-makan rumah-makan ditutup, tempat-tempat maksiyat dihentikan atau minimal dibatasi jam operasionalnya,  dan masih banyak lagi  sarana penunjang tercapainya pribadi yang baik.
 
Tetapi masalahnya adalah, bagaimana menjadi orang baik setelah bulan Ramadhan, yaitu pada 11 bulan berikutnya. Jika masjid-masjid tetap penuh dengan jamaah setelah Ramadhan, jika majlis-majlis ta’lim tetap ramai oleh jamaah setelah Ramadhan, jika aktivitas ibadah  yang kita lakukan lebih meningkat baik kualitas maupun  kuantitasnya setelah Ramadhan, maka itulah hasil kongkrit dari persemaian bulan Ramadhan.
 
Islam adalah agama yang  memberikan perhatian sangat besar terhadap kesejehteraan masyarakat secara umum. Banyak keterangan dalam al-Qur’an dan hadits Nabi yang menyatakan bahwa iman seseorang belum sempurna apabila  dia tidak memperhatikan saudaranya seperti memperhatikan diri sendiri.  Hal ini mengindikasikan, bahwa dalam konsep Islam seseorang tidak cukup menjadi orang shaleh secara individual, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menjadi orang shaleh secara sosial.
 
Semoga ramadhan kali ini dapat memotivasi kita untuk menjadi orang shaleh secara sosial bukan hanya pada bulan Ramadhan, tetapi juga pada 11 bulan berikutnya, dari Syawwal sampai dengan Sya’ban. Dengan demikian  semoga kita termasuk  orang-orang yang selalu  dapat meningkatkan ibadah kita,  baik kualitas maupun kuantitasnya.
Dipublikasi di tafsirilmu | Meninggalkan komentar

“Taatilah keputusan pemerintah”soal puasa dan hari raya”


Yang terbaik bagi seorang muslim dalam perkara yang menyangkut urusan orang banyak dan demi maslahat persatuan adalah menyerahkan urusan tersebut pada pemerintah kaum muslimin. Jika seandainya suara kaum muslimin itu satu dalam berhari raya dan memulai puasa, itu lebih baik. Namun demikianlah sebagian ormas dan golongan tertentu mementingkan egonya masing-masing. “Pokoknya besok kami puasa“, ujar mereka. Padahal yang sesuai sunnah Rasul, hari raya dan puasa diumumkan oleh penguasa, bukan individu atau ormas. Kita pun diperintahkan berpuasa dan berhari raya dengan pemerintah kita.

 

Perhatikan Sunnah Rasul

Seorang muslim tentu saja harus patuh pada dalil. Ketika disampaikan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah, ia harus bersikap tunduk dan manut pada dalil. Bukan egonya yang dikedepankan, bukan hawa nafsunya, bukan kepentingan ormas atau partainya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr: 7).

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Az Zumar: 18). Kita sepakati bersama bahwa Al Qur’an dan As Sunnah adalah sebaik-baik perkataan dibanding perkataan individu atau ormas.

Dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati para sahabat radhiyallahu ‘anhum,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini shahih)

Salah seorang khulafa’ur rosyidin dan manusia terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata,

لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ

Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang.” (HR. Bukhari no. 3093 dan Muslim no. 1759)

Imam Ahmad berkata,

مَنْ رَدَّ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ

Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berada dalam jurang kebinasaan.” (Ibnul Jauzi dalam Manaqib, hal. 182. Dinukil dari Shifat Shalat Nabi hal. 53).

Sunnah Rasul: Pemerintah yang Berhak Putuskan 1 Ramadhan dan 1 Syawal

Inilah ajaran Rasul yang sebagian ormas tidak lagi peduli. Sebagian mereka tidak sabar dengan segera memutuskan kapan 1 Ramadhan dan kapan 1 Syawal melangkahi pemerintah mereka. Kami katakan, ini menyelisihi sunnah Rasul berdasarkan hadits-hadits berikut ini.

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Manusia sedang memperhatikan hilal. Lalu aku mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihat hilal. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.” (HR. Abu Daud no. 2342. Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom berkata bahwa hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim).

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ: – إِنِّي رَأَيْتُ اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اَللَّهِ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَأَذِّنْ فِي اَلنَّاسِ يَا بِلَالُ أَنْ يَصُومُوا غَدًا”

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa seorang Arab Badui ada pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun berkata, “Aku telah melihat hilal.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah?” Ia menjawab, “Iya.” “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?“, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kembali bertanya. Ia pun menjawab, “Iya.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun memerintah, “Suruhlah manusia wahai Bilal agar mereka besok berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 691 dan Ibnu Majah no. 1652. Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom berkata bahwa Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menshahihkannya, namun An Nasai lebih cenderung pada pendapat bahwa riwayat tersebut mursal).

Dua hadits di atas menunjukkan bahwa keputusan berpuasa dan berhari raya menjadi wewenang pemerintah, bukan ormas, individu atau partai.

Maslahat Jika Kaum Muslimin Bersatu

Seandainya kaum muslimin menimbang-nimbang persatuan, dibanding berselisih, tentu tidak ada yang angkat bicara mengenai keputusan berpuasa atau berhari raya sebelum pemerintah mereka. Di negara kita saja yang terlihat berbeda karena setiap orang boleh angkat suara. Berbeda dengan Malaysia dan Kerajaan Saudi Arabia yang hanya seorang muftilah yang boleh angkat bicara kapankah kita mulai berpuasa atau berhari raya.

Seandainya kaum muslimin mau bersatu daripada mementingkan ego dan golongan masing-masing, tentu maslahat begitu besar.

Lihat atsar salaf berikut yang menunjukkan bagaimana mereka lebih mementingkan persatuan daripada berpecah belah.

  عبد الله بن عمر – رضي الله عنهما- يصلي خلف الحجاج بن يوسف الثقفي، المعروف بظلمه، وتعسفه، وغلظته، وعبد الله بن عمر رضي الله عنه، يعتبر من أشد الصحابة تمسكاً بسنة النبي صلى الله عليه وسلم، والاقتداء به، وعندما عوتب في ذلك قال: أمرنا أن نصلي خلف كل بر وفاجر، وأن نقاتل مع كل بر وفاجر

‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah shalat di belakang Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi yang terkenal bengis dan kejam. Kita pun tahu bagaimana ‘Abdullah bin ‘Umar dikenal sebagai sahabat yang paling berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Umar mengatakan, “Kami diperintahkan shalat di belakang imam yang baik dan yang fasik (gemar maksiat). Begitu pula kami diperintahkan untuk berjihad bersama mereka, terserah mereka pemimpin yang baik atau pemimpin yang fasik.” Maksud kalimat tersebut adalah selama kaum muslimin bersatu di bawah pemimpin yang sah walau fasik atau fajir, maka tetap ditaati. Selama pemimpin tidak memerintahkan pada maksiat, maka wajib ditaati.

Sebagian orang sering mencela pemimpin mereka bahkan di depan umum. Lihat saja sikap para ulama. Mereka sangat ingin pemimpin mereka baik. Perhatikan perkataan Imam Ahmad berikut ini,

قال أحمد بن حنبل رحمه الله تعالى: لو أعلم أن لي دعوة مستجابة، لجعلتها لولي الأمر، لأن صلاح ولي الأمر صلاح للأمة جميعاً

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata, “Seandainya aku mengetahui ada satu doaku yang mustajab. Maka aku akan menujukkannya kepada waliyyul amri (penguasa). Karena baiknya pemimpin akan baik pula umatnya.”

Pemerintah Kita Menjalankan Sunnah Rasul

Ada yang berujar, pemerintah kita tidak menjalankan sunnah Rasul. Apa benar? Wong, mereka saja menggunakan metode ru’yatul hilal sebagaimana yang Rasul ajarkan. Itu yang jadi rujukan mereka tahun demi tahun sebagaimana sidang itsbat yang diadakan setiap tahunnya dan bisa disaksikan oleh kaum muslimin di layar televisi atau pun radio. Kenapa sebagian muslim masih tidak percaya, pada pemerintahnya sendiri?

Metode ru’yatul hilal itulah yang diajarkan oleh Rasul, bukan dengan metode hisab. Perhatikan hadits Ibnu ‘Umar berikut,

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا [ قَالَ ]: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ: إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080).

Metode hisab hanyalah sebagai perkiraan, sangat tidak tepat dijadikan rujukan utama sebagaimana yang dianut sebagian ormas. Kami katakan, itu jelas-jelas menyelisihi sunnah Rasul sebagaimana dikatakan pula oleh ulama masa silam. Rasul sendiri yang katakan, beliau tidak mengenal hisab,

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula mengenal hisab. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” (HR. Bukhari no. 1913 dan Muslim no. 1080, dari ‘Abdullah bin ‘Umar).

Ibnu Hajar Asy Syafi’i rahimahullah menerangkan, “Tidaklah mereka –yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengenal hisab kecuali hanya sedikit dan itu tidak teranggap. Karenanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum puasa dan ibadah lainnya dengan ru’yah untuk menghilangkan kesulitan dalam menggunakan ilmu astronomi pada orang-orang di masa itu. Seterusnya hukum puasa pun selalu dikaitkan dengan ru’yah walaupun orang-orang setelah generasi terbaik membuat hal baru (baca: bid’ah) dalam masalah ini. Jika kita melihat konteks yang dibicarakan dalam hadits akan nampak jelas bahwa hukum sama sekali tidak dikaitkan dengan hisab. Bahkan hal ini semakin terang dengan penjelasan dalam hadits,

فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ

“Jika mendung (sehingga kalian tidak bisa melihat hilal), maka sempurnakanlah bilangan  bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Tanyakanlah pada ahli hisab”. Hikmah kenapa mesti menggenapkan 30 hari adalah supaya tidak ada peselisihihan di tengah-tengah mereka.

Sebagian kelompok memang ada yang sering merujuk pada ahli astronom dalam berpatokan pada ilmu hisab yaitu kaum Rofidhoh. Sebagian ahli fiqh pun ada yang sependapat dengan mereka. Namun Al Baaji mengatakan,

إجماع السلف على عدم الاعتداد بالحساب ، وأن إجماعهم حجة على من بعدهم

Cukup kesepakatan (ijma’) ulama  salaf (yang berpedoman dengan ru’yah, bukan hisab, -pen) sebagai sanggahan untuk meruntuhkan pendapat mereka.”

Ibnu Bazizah pun mengatakan, “Madzhab (yang berpegang pada hisab, pen) adalah madzhab batil. Sungguh syariat Islam telah melarang seseorang untuk terjun dalam ilmu nujum. Karena ilmu ini hanya sekedar perkiraan (zhon) dan bukanlah ilmu yang pasti (qoth’i) bahkan bukan sangkaan kuat. Seandainya suatu perkara dikaitkan dengan ilmu hisab, sungguh akan mempersempit karena tidak ada yang menguasai ilmu ini  kecuali sedikit” (Lihat Fathul Bari, 4: 127).

Silakan datangkan dalil bagi yang mengatakan bahwa pemerintah kita itu keliru dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Datangkan dalilmu jika engkau benar” (QS. Al Baqarah: 111).

Puasa dan Hari Raya dengan Pemerintah

Ada perintah dari Rasul untuk berpuasa dan berhari raya dengan pemerintah. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani).

Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits ini berkata,

وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ

“Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Yang dimaksud Abu ‘Isa At Tirmidzi adalah berpuasa dengan pemerintah (ulil amri), bukan dengan ormas atau golongan tertentu.

Disebutkan dalam Hasyiyah As Sindi ‘ala Ibnu Majah,

أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُور لَيْسَ لِلْآحَادِ فِيهَا دَخْل وَلَيْسَ لَهُمْ التَّفَرُّد فِيهَا بَلْ الْأَمْر فِيهَا إِلَى الْإِمَام وَالْجَمَاعَة وَيَجِب عَلَى الْآحَاد اِتِّبَاعهمْ لِلْإِمَامِ وَالْجَمَاعَة وَعَلَى هَذَا فَإِذَا رَأَى أَحَد الْهِلَال وَرَدَّ الْإِمَام شَهَادَته يَنْبَغِي أَنْ لَا يَثْبُت فِي حَقّه شَيْء مِنْ هَذِهِ الْأُمُور وَيَجِب عَلَيْهِ أَنْ يَتْبَع الْجَمَاعَة

“Hadits ini bermakna bahwa perkara penetapan puasa (atau hari raya) bukan urusan individu atau perorangan namun urusan penguasa dan al jama’ah (pemerintah). Wajib bagi setiap orang untuk mengikuti pemerintah mereka. Oleh karenanya jika ada yang melihat hilal lantas pemerintah menolak persaksiannya, maka tidak bisa pendapatnya dipakai dan wajib baginya mengikuti pemerintah kaum muslimin.”

Kalau ada yang mengatakan, bagaimana jika pemerintah itu salah? Cukup dijawab dengan hadits Abu Hurairah berikut, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُصَلُّونَ لَكُمْ ، فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ ، وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Jika shalat para imam itu benar, maka pahalanya bagi mereka dan untuk kalian. Jika shalat mereka salah, kalian dapat pahala dan mereka dapat dosa.” (HR. Bukhari no. 694).

Taat pada pemerintah kita kata Nabi adalah jalan menuju surga. dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah saat haji wada’ dan mengucapkan,

اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ

Bertakwalah pada Allah Rabb kalian, laksanakanlah shalat limat waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat dari harta kalian, taatilah penguasa yang mengatur urusan kalian, maka kalian akan memasuki surga Rabb kalian.” (HR. Tirmidzi no. 616 dan Ahmad 5: 262. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, Syaikh  Al Albani menshahihkan hadits ini).

Bersabarlah menanti keputusan pemerintah kita.

Artikel kiriman dari: Ubed

Dipublikasi di tafsirilmu | 2 Komentar

Pemikiran Pendidikan Islam


Pemikiran Pendidikan Islam

 

 

Imam al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 Hijrah bersamaan dengan tahun 1058 Masehi di bandat Thus, Khurasan (Iran). Ia berkun`yah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (lahir 1058 di Thus, Propinsi Khurasan, Persia (Iran), wafat 1111, Thus) .
Al-Ghozali adalah seorang ulama’ besar yang sebagian beser waktunya dihabiskan untuk memperdalam khazanah keilmuan. Perhatiannya yang sangat besar kepada ilmu menjadikan Al-ghozali sebagai salah satu ulama’ islam yang banyak menelurkan hasil buah pemikirannya kedalam bentuk tulisan yang hingga saat ini masih dapat dipelajari serta dianut oleh sebagian kelompok masyarakat.
Hal ini juga membuat para ahli ilmu baik filosof, agamawan, maupun ahli ilmu kalam dll. Merasa tertangtantang untuk melakukan penelitian terhadap hasil karya Al-Ghozali. Sudah menjadi sebuah kewajaran bahwa ”tak ada manusia yang sempurna”. Demikian halnya dengan Al-Ghozali, walaupun banyak orang yang menganggap membela dan menyatakan bahwa Al-Ghozali merupakan pembela islam(hujjatul islam), dan menganggap Al-Ghozali adalah manusia muslim kedua setelah nabi Muhammad SAW dalam membawa dan membimbing ummat melalui pemikiran yang masih dan tetap relevan untuk masa-masa kini(kontemporer) namun, tidak sedikit juga orang yang berasumsi bahwa pemikiran Al-Ghozali kadang bersebrangan dengan rasio. Sehingga ada yang menyatakan bahwa Al-Ghozali merupakan sumber dan pangkal kemunduran islam, dan anti intelektualisme.

Terlepas dari pro dan kontra diatas, ternyata Al-Ghozali juga banyak memberikan perhatiannya terhadap masalah-masalah pendidikan. Hal ini dilakukan Al-ghozali mengingat bahwa islam sangat menjunjung tinggi bagi mereka yang memiliki ilmu dan mereka yang dengan sungguh-sungguh mencari ilmu. Pernyataan ini sesuai dengan firman Allah:
niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.( Al mujadalah. 11)
A.    Sekilas Auto Biografi Al-Ghozali.
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad abu Hamid Al-Ghozali/Ghozzali. Beliau dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M, di desa Ghozalah, Thusia, wilayah Khurosan, Persia. Atau sekarang yang lebih dikenal negara Iran. Ia juga keturunan Persia dan mempunyai hubungan keluarga dengan raja-raja saljuk yang memerintah daerah Khurosan, Jibal Irak, Jazirah, Persia, dan Ahwaz .

Al-Ghozali merupakan anak seorang yang kurang mampu. Ayahnya adalah seorang yang jujur, hidup dari usaha mandiri, pemintal benang dan bertenun kain bulu (wol). Ayahnya juga sering mengunjungi rumah alim ulama’, hal ini dilakukan ayah karena ia pada dasarnya juga sangat senang menuntutu ilmu serta berbuat jasa kepada mereka.

Dia (Al-Ghozali) adalah pemikir ulung islam yang mendapat gelar “pembela islam”(hujjatul islam), “hiasan agama”(zainuddin), ada pula orang yang memanggilnya dengan sebutan”samudra yang menghanyutkan”(bahrun mughriq), dan lain-lain. Gelar tersebut disenmatkan kepada Al-Ghozali karena ia seorang yang mengabdikan hidupnya pada agama dan masyarakat baik melalui pergaulannya ketika beliau masih hidup dan lewat karya-karyanya.
\B.     Pemikiran Al-Ghozali tentang pendidikan
Suatu hal yang menarik dari Al-Ghozali adalah kecintaannya dan perhatiannya yang sangat besar terhadap moralitas dan pengetahuan sehingga ia berusaha untuk mengabdikan hidupnya untuk mengarungi samudra keilmuan. Berangkat dari dahaga akan ilmu pengetahuan serta keinginannya untuk mencapai keyakinan dan mencari hakekat kebenaran sesuatu yang tidak pernah puas. Ia terus melakukan pengembaraan intelektualitas, filsafat, ilmu kalam, tasawuf, dan lain-lain. Inilah sebabnya mengapa pemikiran Al-Ghozali terkadang inkonsisten dan kadang terdapat kita temui kontradiksi-kontradiksi dalam kitabnya. Karena di pengaruhi perkembangan sejak muda sekali dan pada waktu mudanya juga ia sudah banyak menuliskan buah pikirannya
 
Sistem pendidikan al-ghazali sangat dipengaruhi luasnya ilmu pengetahuan yang dikuasainya, sehingga dijuluki filosof yang ahli tasawuf (Failasuf al-Mutasawwifin) Dua corak ilmu yang telah terpadu dalam dirinya itu kemudian turut mempengaruhi formulasi komponen-komponen dalam sistem pendidikannya. Ciri khas sistem pendidikannya al-Ghazali sebenarnya terletak pada pengajaran moral religious dengan tanpa mengabaikan urusan dunia
1.      Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan menurut al-Ghazali harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqorrub kepada Allah dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Sebab jika tujuan pendidikan diarahkan selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan menyebabkan kesesatan dan kemudharatan. Al-Ghazali berkata :
“hasil dari ilmu sesungguhnya ialah mendekatkan diri kepada Allah, dan menghubungkan diri dengan para malaikat yang tinggi dan bergaul dengan alam arwah, itu semua adalah kebesaran, pengaruh pemerintahan bagi raja-raja dan penghormatan secara naluri”.
Menurut al-Ghazali, pendekatan diri kepada Allah merupakan tujuan pendidikan. Orang dapat mendekatkan diri kepada Allah hanya setelah memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu tidak akan diperoleh kecuali melalui pengajaran. Selanjutnya, dari kata-kata tersebut dapat difahami bahwa menuru al-Ghazali tujuan pendidikan dapat dibagi menjadi 2 yaitu tujuan jangka panjang dan pendek.
a.       Tujuan pendidikan jangka panjang
Adalah mendekatkan diri kepada Allah, pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju pengenalan dan kemudian pendekatan diri kepada Allah. Menurut konsep ini, dapat dinyatakan bahwa semakin lama seseorang duduk dibangku pendidikan, semakin bertambah ilmu pengetahuannya, maka semakin mendekat kepada Allah.
Tentu saja untuk mewujudkan hal itu bukanlah sistem pendidikan yang memisahkan ilmu-ilmu keduniaan dari nilai-nilai kebenaran dan sikap religius, tetapi sistem pendidikan yang memadukan keduanya secara integral. Sistem inilah yang mampu membentuk manusia yang mampu melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan dan sistem pemdidikan al-Ghazali mengarah kesana.
b.      Tujuan pendidikan jangka pendek
Adalah diraihnya profesi manusia sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Syarat untuk mencapai tujuan itu adalah, manusia mengembangkan ilmu pengetahuan baik yang fardu ‘ain maupun fardu kifayah
Kesimpulan tujuan pendidikan menurut al-Ghazali :
1) Mendekatkan diri kepada Allah, yang wujudnya adalah kemampuan dan denfgan kesadaran diri melaksanakan ibadah wajib dan sunnah
2) Menggali dan mengambangkan potensi atau fitrah manusia
3) Mewujudkan profesionalisasi manusia untuk mengemban tugas keduniaan dengan sebaik-baiknya
4) Membentuk manusia yang berakhlak mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela
5) Mengembangkan sifat-sifat manusia yang utama sehingga menjadi manusia yang manisiawi
2. Kurikulum Pendidikan
Kurikulum disini dimaksudkan adalah kurikulum dalam arti yang sempit, yaitu seperangkat ilmu yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik agar dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan
Pandangan al-Ghazali terhadap kurikulum dapat dilihat dari pandangan mengenai tentang ilmu pengetahuan. Kurikulum pendidikan yang disusun al-ghazali sesuai pandanganya mengenai tujuan pendidikan yakni mendekatkan diri kepada Allah yang merupakan tolak ukur manusia. Untuk menuju kesana diperlukan ilmu pengetahuan Mengurai kurikulum pendidikan menurut al-ghazali, ada dua hal yang menarik bagi kita. Pertama, pengklasifikasian terhadap ilmu pengetahuan yang sangat terperinci yang segala aspek yang terkait denganya. Kedua, pemikiran tentang manusia dengan segala potensi yang dibawanya sejak lahir. Semua manusia esensinya sama. Ia sudah kenal betul dengan pencipta sehingga selalu mendekat padanya dan itu tidak akan berubah.
Al-ghazali mengklasifikasikan manusia adalah pribadi yang satu yang tidak dapat disamakan dengan pribadi yang lain. Tingkat pemahaman, daya tangkap, dan daya ingatnya terhadap ilmu pengetahuan, kemampuan menjalankan tugas hidupnya berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu dalam kaitanya dengan kurikulum al-ghazali mendasarkan pemikiranya bahwa kurikulum pendidikan harus disusun dan selanjutnya disampaikan kepada murid sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan psikisnya.
Selanjutnya al-ghazali membagi ilmu pengetahuan dari beberapa sudut pandang, yaitu :
a.       Berdasarkan pembidangan ilmu
Dibagi menjadi dua bidang, yaitu ilmu syari’ah sebagai ilmu terpuji terdiri atas ilmu ushul, ilmu furu’, ilmu pengantar, muqoddimah, dan ilmu pelengkap. Yang kedua yaitu ilmu yang bukan ilmu syari’ah, terdiri dari ilmu kedokteran, ilmu hitung, pertanian, pembangunan, tata pemerintahan, industri, kebudayaan, sastra, ilmu tenun dan pengolahyan pangan
b.      Berdasarkan objek
Ilmu dibagi atas tiga kelompok, yaitu :
1) Ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak baik sedikit ,maupun banyak. Seperti, sihir, azimat, dan ilmu tentang ramalan nasib
2) Ilmu pengetahuan yang terpuji. Seperti ilmu agama, dan ilmu tentang beribadat.
3) Ilmu pengethuan yang dalam kadar tertentu terpuji tapi jika mendalmin ya tercela. Seperti dari filsafat naturalism. Menurut al-ghazali ilmu tersebut juka diperdalam akan menimbulkan kekacauan fikirann dan keraguan, sehingga mendorong manusia kepada kufur dan ingkar.
c. Berdasarkan status hukum mempelajarinya yang terkait dengan nilau guna.
Dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
1) fardu ain, yang wajib dipelajari setiap individu misalkan illmu agama dan cabang-cabangnya
2) fardu kifayah, yaitu ilmu yang tidak diwajibkan pada setiap muslim tetapi harus ada diantara orang muslim yang mempelajarinya. Misalkan ilmu kedokteran, ilmu hitung, pertanian, politik, dan pengobatan tradisional.
3. Pendidik
Dalam hal ini al-ghozali berkata :
“ makhluk yang paling mulia di muka bumi adalah manusia. Sedangkan yang paling mulia penampilanya ialah kalbunya. Guru atau pengajar se;a;u menyempurnakan, mengagungkan dan mensucikan kalbu itu serta menuntutnya untuk dekat kepada Allah”.
Dia juga berkata ;“ seseorang yang berilmu dan kemuudian bekerja dengan ilmunya itu, dialah yang dinamakn oranbg besar dibawah kolong langit ini. Ia bagai matahari yang mencahayai orang lain, sedangkan ia sendiri pun bercahaya. Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain, ia sendiri pun harum,. “
Menurut al-ghozali seorang pendidik atau guru harus memiliki beberapa sifat sebagai berikut :
a. Bertanggug jawab
b. Sabar
c. Duduk tenang penuh wibawa
d. Tidak sombong terhadap semua orang, kecuali terhadap orang yang dzolim dengan tujuan untuk menghentikan kedzolimanya.
e. Mengutamakn bersikap tawadhu’ di majlis-majlis pertemuan
f. Tidak suka bergurau dan bercanda
g. Ramah terhadap para pelajar
h. Teliti dan setia mengawasi anak yang nakal
i. Setia membimbing anak yang bebal
j. Tidak gampang marah kepada anak yang bebal dan lambat pemikiranya
k. Tidak malu untuk mengatakan akan ketidaktahuannya tentang persoalan yang belum ditekuninya.
l. Memperhatikan murid yang bertanya dan berusaha menjawabnya dengan baik.
m. Manerima alasan yang diajukan kepadanya
n. Tunduk kepada kebenaran
o. Melarang murid yang mempelajari ilmu yang membahayakan.
p. Memperingatkan murid mempelajari ilmu agama tetapi untuk kepentingan selain Allah
q. Memperingatkan murid agar tidak sibuk mempelajari ilmu fardu kifayah sebelum selesai dengan mempelajari ilmu fardu ‘ain
r. Memperbaiki ketaqwaaanya kepada Allah
s. Mempraktekkan makna taqwa dalam kehidupan sehari-harinya ssebelum memerintahkan kepada murid agar murid mengikuti perbuatanya dan agar murid mengambil manfaat dari ucapan-ucapanya.
4. Peserta didik
Al-ghazali berkata :“ Seorang pelajar hendaknya tidak menyobongkan diri dengan ilmunya dan jangan menentang gurunya. Tetapi menyerah sepenuhnya kepada guru dengan keyakinan kepada segala nasihatnya sebagaimana seorang sakit yang bodoh yakin kepada dokter yang ahli dan berpengalaman. Seharusnya seorang pelajar itu tunduk kepada gurunya, mengaharap pahala dan kemuliaan dengan tunduk kepadanya.”
Sedangkan menurut al-ghozali, peserta didik haruslah sebagai berikut :
a. Hendaknya memberi ucapan salam kepada guru terlebih dahulu
b. Tidak banyak bicara di hadapanya
c. Tidak berbicara selagi tidak ditanya gurunya
d. Tidak bertanya sebelum memintya izin terlebih dahulu
e. Tidak menentang ucapan guru dengan ucapan (pendapat) orang lain
f. Tidak menampakkan peetentangannya terhadap pendapat gurunya, apalagi menganggap diriya lebih pandai dari gurunya
g. Tidak boleh berisik kepada teman yang duduk di sebelahnya ketika guru sedang berada dalam majlis itu
h. Tidak menoleh-noleh ketika sedang berada di hadapan gurunya, tetapi harus menundukkan kepala dan tengang seperti dia sedang melakukan shalat
i. Tidak banyak bertanya kepada guru, ketika kondisi guru dalam keadaan letih
j. Hendaknya berdiri ketika gurunya berdiri dan tidak berbicara denganya ketika dia sudah beranjak dari tempat duduknya
k. Tidak mengajukan pertanyaan kepada guru di tengah perjalananya
l. Tidak berprasangka buruk pada guru ketika ia melakukan perbuatan yang dhohirnya munkar, sebab dia lebih mengetrahui rahasia (perbuatanya)
5. Media dan Metode
Metode dan media yang dipergunakan menurut Al-Ghazali harus dilihat secara psikologis, sosiologis, maupun pragmatis dalam rangka keberhasilan proses pembelajaran. Metode pengajaran tidak boleh monoton, demikian pula media atau alat pengejaran.
Perihal kedua masalah ini, banyak sekali pandapat Al-Ghazali tentang metode dan metode pengajaran. Untuk metode, misalnya menggunakan metode mujahadah dan riyadhlah, pendidikan praktek kedisiplinan, pembiasaan dan penyajian dalil naqli dan aqli, serta bimbingan dan nasehat. Sedangkan media / alat digunakan dalam pengajaran. Beliau menyetujui adanya pujian dan hukuman, di samping keharusan menciptakan kondisi yang mendukung terwujudnya akhlak yang mulia.
6. Proses Pembelajaran
Al-Ghazali mengajukan konsep pengintegrasian antara materi, metode dan media atau alat pengajarannya. Seluruh komponen tersebut harus diupayakan semaksimal mungkin, sehinggga dapt menumbuh kembangkan segala potensi fitrah anak, baik dalam hal usia, intelegensi, maupun minat dan bakatnya. Jangan sampai anak diberi materi materi pengajaran yang justru merusak akidah dan akhlaknya. Anak yang dalam kondisi taraf akalnya belum matang, hendaknya diberi materi pengajaran yang dapat mengarahkan kepada akhlak yang mulia. Adapun ilmu yang paling baik diberikan pada tahap pertama ialah ilmu agama dan syariat, terutama al-Qur’an.
C. Relevensi Pandangan Al-Ghazali Bagi Kebutuhan Pengembangan Pendidikan Islam Dewasa Ini
Patut dibenarkan apa yang dikatakan ismail razi al-Faruqi bahwa inti masalah yang dihadapai umat Islam dewasa ini adalah masalah pendidikan dan tugas terberatnya adalah memecahkan masalah tersebut.
Keberhasilan dan kegagalan suatu proses pendidikan secara umum dapat dilihat dari outputnya, yakni orang-orang yang menjadi produk pendidikan. Apabila sebuah proses pendidikan menghasilkan orang-orang yang bertanggungjawab atas tugas-tugas kemanusiaan dan tugasnya kepada Tuhan, bertindak lebih bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain, pendidikan tersebut dapat dikatakan berhasil. Sebaliknya, bila outputnya adalah orang-orang yang tidak mampu melaksanakan tugas hidupnya, pendidikan tersebut dianggap gagal.
Ciri-ciri utama dari kegagalan proses pendidikan ialah manusia-manusia produk-produk pendidikan itu lebih cenderung mencari kerja dari pada menciptakan lapangan kerja sendiri. Kondisi demikian terlihat dewasa ini, sehingga lahir berbagai budaya yang tidak sehat bagi masyarakat luas. Diberbagai media masa telah banyak diungkapkan mengenai rendahnya mutu pendidikan nasional kita. Keadaan ini mengundang para cendekiawan mengadakan penelitian yang berkaitan dengan mutu pendidikan. Berbicara mengenai mutu pendidikan masalahnya menjadi sangat komplek. Oleh karena itu dapat disadari bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak dapat lepas dari proses perubahan siswa didalam dirinya. Perubahan yang dimaksud mencakup dalam pengetahuan, sikap, dan psikomotor
Berangkat dari kondisi pendidikan kita, seperti telah dikemukakan di atas, tampak pemikiran al-Ghazali sangat relevan untuk dicoba diterapkan di Indonesia, yang secara gamblang menawarkan pendidikan akhlak yang paling diutamakan . untuk lebih jelasnya, sumbangan pemikiran al-Ghazali bagi pengembangan dunia pendidika Islam khususnya, dan pendidikan pada umumnya. Dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.      Tujuan pendidikan
Dari hasil studi terhadap pemikiran al-Ghazali, diketahui dengan jelas bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan yaitu:
a. Tercapainya kesempurnaan insane yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah
b. Kesempurnaan insane yang bermuara pada kebahagiaan dunia akhirat
Pendapat al-Ghazali tersebut disamping bercorak religius yang merupakan cirri spesifik pendidikan Islam, cenderung untuk membangun aspek sufistik. Manusia akan sampai kepada tingkat kesempurnaan itu hanya dengan menguasai sifat keutamaan melalui jalur ilmu. Dengan demikian, modal kebahagiaan dunia dan akhirat itu tidak lain adalah ilmu.
Secara implisit, al-Ghazali menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk insan yang paripurna, yakni insan yang tau kewajibannya, baik sebagai hamba Allah, maupun sebagai sesama manusia.
Dalam sudut pandang ilmu pendidikan Islam, aspek pendidikan akal ini harus mendapat perhatian serius. Hal ini dimaksudkan untuk melatih dan pendidikan akal manusia agar berfikir dengan baik sesuai dengan petunjuk Allah dan Rosul-Nya. Adapun mengenai pendidiakn hati seperti dikemukakan Al-Ghazali merupakan suatu keharusan hagi setiap insan.
Dengan demikian, keberadaan pendidikan bagi manusia yang meliputi berbagai aspeknya mutlak diperlukan bagi kesempurnaan hidup manusia adalam upaya membentuk mausia paripurna, berbahagia didunia dan akhirat kelak. Hal imni berarti bahwa tujuan yang telah ditetapkan oleh imam al-Ghazali memiliki koherensi yang dominan denga upaya pendiidkan yang melibatkan pembentuka seluruh aspek pribadi manusia secara utuh.
2.      Materi pendidikan Islam
Imam ai-Ghazali telah mengklasifikasikan meteri (ilmu)dan menyusunnya sesuai dengan dengan kebutuhan anak didikjuga sesuai dengan nilai yang diberikan kepadanya. Dengan mempelajari kurikulum tersebut, jelaslah bahwa ini merupakan kurikulum atau materi yang bersifat universal, yang dapat dipergunakan untuk segala jenjang pendidikan. Hanya saja al-Ghazali tidak merincinya sesuai dengan jenjang dan tingkatan anak didik.
Yang menarik adalah hingga hari ini pendidikan Islam dinegara kita masih jauh terbelakang, dalam arti bahwa pendiidkan Islam hari ini masih membedakan antara ilmu agama (Islam) dan ilmu umum. Corak pembidangan ilmu itu ternyata berimbas pada orientasi pendirian lembaga pendidikan Islam. Misalnya setingkat IAIN saja, tercermin bahwa ilmu yang dipelajari ternyata hanya terbatas di seputas ilmu agama Islam saja dalam arti sesempit-sempitnya. Sementara pandangan al-Ghazali pada lebih dari seribu tahun yang lalu tidak membedakan pembidangan ilmu semacam ini di Indonesia pada khususnya dan didunia Islam pada umumnya.
Untuk menghilangkan kesan dikotomi ilmu, dewasa ini lembaga pendiidkan tinggi Islam milik pemerintah seperti IAIN meningkatkan lembaganya ketingkat lebih tinggi yakni ketimhkat universitas seperti munculnya UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Bandung dsb.
Jadi relevansi pandangan al-Ghazali dengan kebutuhan pengembangan dunia pendidikan Islam dewasa ini sangan bertautan dengan tuntutan saat ini, baik dalam pengertian spesifik maupun secara umum. Secara spesifik misalnya pengembangan studi akhlak tampak diperlukan dewasa ini. Sangat disanyangkan, materi ini telah hilang dilembaga-lembaga pendiidkan. Jangankan disekolah yang berlabel umum, disekolah yang berlambang Islam saja bidang studi yang satu ini sudah tidak ada.
Dengan demikian pula secara umum, pandangan Al-Ghazali tentang pendidikan Islam tampak perlu dicermati. Keutuhan pandangan Al-Ghazali tentang Islam misalnya tampak tidak dikotomi seperti sekarang ini, ada ilmu agama dan ilmu umum, sehingga dari segi kualitas intelektual secara umum umat Islam jauh tertinggal dari umat yang lain. Hal ini barang kali merupakan salah satu akibat sempitnya pandangan umat terhadap ilmu pengetahuan yang dikotomi seperti itu.
3.      Metode pendidikan Islam
Pandangan Al-Ghazali secara spesifik berbicara tentang metode barang kali tidak ditemukan namun secara umum ditemukan dalam karya-karyanya. Metode pendidikan agama menurut Al-Ghazali pada prinsipnya dimulai dengan hafalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran setelah itu penegakkan dalil-dalil dan keterangan yang menunjang penguatan akidah
Pendidikan agama kenyataanya lebih sulit dibandingkan dengan pendidikan lainnya karena, pendidikan agama menyangkut masalah perasaan dan menitik beratkan pada pembentukan kepribadian murid. Oleh karena itu usaha Al-Ghazali untuk menerapkan konsep pendidikannya dalam bidang agama dengan menanamkan akidah sedini mungkin dinilai tepat. Menurut Al-Ghazali bahwa kebenaran akal atau rasio bersufat sempurna maka agama, bagi murid dijadikan pembimbing akal.
Dari uraian singkat diatas dapat dipahami bahwa makna sebenarnya dari metode pendidikan lebih luas daripada apa yang telah dikemukakan diatas. Aplikasi metode pendidikan secara tepat guna tidak hanya dilakukan pada saat berlangsungnya proses pendidikan saja, melainkan lebih dari itu, membina dan melatih fisik dan psikis guru itu sendiri sebagai pelaksana dari penggunaan metode pendidikan
Dengan demikian prinsip-prinsip penggunaan yang tepat sebagaimana diungkapkan oleh imam Al-Ghazali memiliki relevansi dan koherensi dengan pemikiran nilai-nilai pendidikan kontemporer pada masa kini. Hal ini berarti bahwa nilai-nilai kependidikan yang digunakan oleh imam Al-Ghazali dapat diterapkan dalam dunia pendidikan dalam dunia global.
 
Kesimpulan:
Berdasarkan uraian diatas berikut ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Keutuhan pribadi Al-Ghazali dapat diketahui dengan memahami hasil karyanya disemua bidang dan disiplin ilmu yang telah diselaminya dan bukan pada satu segi saja misalnya segi tasawuf, dengan deniukian kesan Al-Ghazali hanya sebagai sufi yang skeptis, hanya bergerak dibidang ruhani dan perasaan jiwa.
2. Pendidikan Islam menurut imam Al-Ghazali adalah sarana perekayasaan social bagi umat Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menuju kesempurnaan hidup manusia hingga mencapai insane kamil yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dan kesempurnaan manusia yang bertujuan meraih kebahagiaan didunia dan diakhirat kelak. Pencapaian lesempurnaan hidup melalui proses pendidikan juga merupakan tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri.
3. Materi pendidikan isalam menurut al-Ghazali yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah ialah berisiskan berbagai ilmu pengetahuan sebagai sarana yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya, sehingga ia mendekatkan diri secara kualitatif kepada-Nya. Dan dengan begitu sipenuntut ilmu dapat mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat kelak
Dipublikasi di tafsirilmu | Meninggalkan komentar

Permasalahan Pendidikan Islam saat ini


Permasalahan Pendidikan Islam saat ini

Oleh : Ubay

                                                        Pendahuluan

 

Istilah Pendidikan Islam dipergunakan dalam dua hal, yaitu: satu, segenap kegiatan yang dilakukan seseorang atau lembaga untuk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa. Dua, keseluruhan lembaga pendidikan yang mendasarkan segenap program dan kegiatannya atas pandangan dan nilai-nilai Islam.

 

Dalam menjelaskan arti Pendidikan Islam akan banyak kita jumpai beberapa pandangan mengenai pengertian dari Pendidikan Islam itu sendiri. Burlian Somad.1981, mengatakan bahwa Pendidikan Islam adalah Pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi mahluk yang bercorak diri, berderajat tinggi menurut ukuran Alloh dan isi pendidikannya adalah mewujudkan tujuan itu, yaitu ajaran Alloh. Secara terperinci beliau mengemukakan, pendidikan itu disebut Pendidikan Islam apabila memiliki dua ciri khas yaitu

 

  1. Tujuannya membentuk individu menjadi bercorak tinggi menurut ukuran Al-Qur’an.
  2. Isi Pendidikannya adalah ajaran Alloh yang tercantum dengan lengkap didalam Al-qur’an yang pelaksanaannya didalam praktek hidup sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

 

Sedangkan menurut Muhammad Naquib al-Attas, (1992:18) bahwa pendidikan Islam merupakan pendidikan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum Agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam yaitu suatu kepribadian muslim yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memiliki dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggungjawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.

 

Dari beberapa uraian tersebut diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pendidikan Islam ialah usaha dalam pengubahan sikap dan tingkah laku individu dengan menanamkan ajaran-ajaran agama Islam dalam proses pertumbuhannya menuju terbentuknya kepribadian yang berakhlak mulia, Dimana akhlak yang mulia adalah merupakan hasil pelaksanaan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itu individu yang memiliki akhlak mulia menjadi sangat penting keberadaannya sebagai cerminan dari terlaksananya pendidikan Islam.

 

Sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim, pendidikan Islam mempunyai peran yang sangat signifikan di Indonesia dalam pengembangan seumberdaya manusia dan pembangunan karakter, sehingga masyarakat yang tercipta merupakan cerminan masyarakat islami. Dengan demikian Islam benar-benar menjadi rahmatan lil’alamin, rahmat bagi seluruh alam.

 

Namun hingga kini pendidikan Islam masih saja menghadapi permasalahan yang komplek, dari permasalah konseptual-teoritis, hingga persoalan operasional-praktis. Tidak terselesaikannya persoalan ini menjadikan pendidikan Islam tertinggal dengan lembaga pendidikan lainnya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga pendidikan Islam terkesan sebagai pendidikan “kelas dua”. Tidak heran jika kemudian banyak dari generasi muslim yang justru menempuh pendidikan di lembaga pendidikan non Islam.

 

Ketertinggalan pendidikan Islam dari lembaga pendidikan lainnya, menurut Zainal Abidin Ahmad (1970:35), setidaknya disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

 

  1. Pendidikan Islam sering terlambat merumuskan diri untuk merespon perubahan dan kecenderungan masyarakat sekarang dan akan datang.
  2. Sistem pendidikan Islam kebanyakan masih lebih cenderung mengorientasikan diri pada bidang-bidang humaniora dan ilmu-ilmu sosial ketimbang ilmu-ilmu eksakta semacam fisika, kimia, biologi, dan matematika modern
  3. Usaha pembaharuan pendidikan Islam sering bersifat sepotong-potong dan tidak komprehensif, sehingga tidak terjadi perubahan yang esensial.
  4. Pendidikan Islam tetap berorientasi pada masa silam ketimbang berorientasi kepada masa depan, atau kurang bersifat future oriented.
  5. Sebagian pendidikan Islam belum dikelola secara professional baik dalam penyiapan tenaga pengajar, kurikulum maupun pelaksanaan pendidikannya.

 

 Sistem Pendidikan Islam

 

          Sistem pendidikan Islam merupakan solusi mendasar untuk mengganti sistem pendidikan sekuler saat ini. Bagaimanakah gambaran sistem pendidikan Islam tersebut? Berikut uraiannya secara sekilas.Pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter, yakni:

 

Pertama, berkepribadian Islam. Ini sebetulnya merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir (’aqliyyah) dan pola jiwa (nafsiyyah) yang berpijak pada akidah Islam.

 

Untuk mengembangkan kepribadian Islam, paling tidak, ada tiga langkah yang harus ditempuh, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw., yaitu:

 

  1. Menanamkan akidah Islam kepada seseorang dengan cara yang sesuai dengan kategori akidah tersebut, yaitu sebagai ‘aqîdah ‘aqliyyah; akidah yang muncul dari proses pemikiran yang mendalam.
  2. Menanamkan sikap konsisten dan istiqâmah pada orang yang sudah memiliki akidah Islam agar cara berpikir dan berprilakunya tetap berada di atas pondasi akidah yang diyakininya.
  3. Mengembangkan kepribadian Islam yang sudah terbentuk pada seseorang dengan senantiasa mengajaknya untuk bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqâfah islâmiyyah dan mengamalkan ketaatan kepada Allah SWT.

 

Kedua, menguasai tsaqâfah Islam. Islam telah mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Berdasarkan takaran kewajibannya, menurut al-Ghazali dalam Ali Saifullah: (1987:19) ilmu dibagi dalam dua kategori, yaitu:

 

  1. Ilmu yang termasuk fardhu ‘ain (kewajiban individual), artinya wajib dipelajari setiap Muslim, yaitu tsaqâfah Islam yang terdiri dari konsepsi, ide, dan hukum-hukum Islam; bahasa Arab; sirah Nabi saw., Ulumul Quran, Tahfizh al-Quran, ulumul hadis, ushul fikih, dll.
  2. Ilmu yang dikategorikan fadhu kifayah (kewajiban kolektif); biasanya ilmu-ilmu yang mencakup sains dan teknologi serta ilmu terapan-keterampilan, seperti biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik.

 

Ketiga, menguasai ilmu kehidupan (IPTEK). Menguasai IPTEK diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan baik. Islam menetapkan penguasaan sains sebagai fardlu kifayah, yaitu jika ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat, seperti kedokteran, kimi, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dll.

 

Keempat, memiliki keterampilan yang memadai. Penguasaan ilmu-ilmu teknik dan praktis serta latihan-latihan keterampilan dan keahlian merupakan salah satu tujuan pendidikan Islam, yang harus dimiliki umat Islam dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT. Sebagaimana penguasaan IPTEK, Islam juga menjadikan penguasaan keterampilan sebagai fardlu kifayah, yaitu jika keterampilan tersebut sangat dibutuhkan umat, seperti rekayasa industri, penerbangan, pertukangan, dan lainnya.

 

Agar keluaran pendidikan menghasilkan SDM yang sesuai harapan, harus dibuat sebuah sistem pendidikan yang terpadu. Artinya, pendidikan tidak hanya terkonsentrasi pada satu aspek saja. Sistem pendidikan yang ada harus memadukan seluruh unsur pembentuk sistem pendidikan yang unggul.

 

Dalam hal ini, minimal ada 3 hal yang harus menjadi perhatian, yaitu : Pertama, sinergi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga. Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur di atas. Sebab, ketiga unsur di atas menggambarkan kondisi faktual obyektif pendidikan. Saat ini ketiga unsur tersebut belum berjalan secara sinergis, di samping masing-masing unsur tersebut juga belum berfungsi secara benar.

 

Buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di tengah-tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, seks bebas, narkoba, dan sebagainya. Pada saat yang sama, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimum. Apalagi jika pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.

 

Kedua, kurikulum yang terstruktur dan terprogram mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi. Kurikulum sebagaimana tersebut di atas dapat menjadi jaminan bagi ketersambungan pendidikan setiap anak didik pada setiap jenjangnya.

 

Selain muatan penunjang proses pembentukan kepribadian Islam yang secara terus-menerus diberikan mulai dari tingkat TK hingga PT, muatan tsaqâfah Islam dan Ilmu Kehidupan (IPTEK, keahlian, dan keterampilan) diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing.

 

Pada tingkat dasar atau menjelang usia baligh (TK dan SD), penyusunan struktur kurikulum sedapat mungkin bersifat mendasar, umum, terpadu, dan merata bagi semua anak didik yang mengikutinya.

 

Bin al-Khaththab, dalam wasiat yang dikirimkan kepada gubernur-gubernurnya, menuliskan, “Sesudah itu, ajarkanlah kepada anak-anakmu berenang dan menunggang kuda, dan ceritakan kepada mereka adab sopan-santun dan syair-syair yang baik.”

 

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mewasiatkan kepada Sulaiman al-Kalb, guru anaknya, “Sesungguhnya anakku ini adalah cahaya mataku. Saya mempercayaimu untuk mengajarnya. Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dan tunaikanlah amanah. Pertama, saya mewasiatkan kepadamu agar engkau mengajarkan kepadanya al-Quran, kemudian hapalkan kepadanya al-Quraan (Siti Meichati, 1980:15).

 

Di tingkat Perguruan Tinggi (PT), kebudayaan asing dapat disampaikan secara utuh. Ideologi sosialisme-komunisme atau kapitalisme-sekularisme, misalnya, dapat diperkenalkan kepada kaum Muslim setelah mereka memahami Islam secara utuh. Pelajaran ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan dan dipahami cacat-celanya serta ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia.

 

Ketiga, berorientasi pada pembentukan tsaqâfah Islam, kepribadian Islam, dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Ketiga hal di atas merupakan target yang harus dicapai. Dalam implementasinya, ketiga hal di atas menjadi orientasi dan panduan bagi pelaksanaan pendidikan.Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Negara

 

Islam merupakan sebuah sistem yang memberikan solusi terhadap berbagai problem yang dihadapi manusia. Setiap solusi yang disajikan Islam secara pasti selaras dengan fitrah manusia. Dalam konteks pendidikan, Islam telah menentukan bahwa negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan dan mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah.

 

Problematika Pendidikan Islam saat Ini

 

Problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan. Persoalan-persoalan pendidikan tersebut menurut “Burlian Somad” dalam S.Wojowasito-W.J.S. Poerwadarminta (1988:12 )secara garis besar meliputi hal sebagai berikut : Adanya ketidak jelasan tujuan pendidikan, ketidak serasian kurikulum, ketiadaan tenaga pendidik yang tepat dan cakap, adanya pengukuran yang salah ukur serta terjadi kekaburan terhadap landasan tingkat-tingkat pendidikan.

 

Terkait dengan ketertinggalan pendidikan Islam ini, menurut Muhaimin dikarenakan oleh terjadinya penyempitan terhadap pemahaman pendidikan Islam yang hanya berkisar pada aspek kehidupan ukhrawi yang terpisah dengan kehidupan duniawi, atau aspek kehidupan rohani yang terpisah dengan kehidupan jasmani.

 

Jika melihat pendapat Muhaimin ini, maka akan tampak adanya pembedaan dan pemisahan antara yang dianggap agama dan bukan agama, yang sakral dengan yang profan antara dunia dan akhirat. Cara pandang yang memisahkan antara yang satu dengan yang lain ini disebut sebagai cara pandang dikotomik. Adanya simtom dikotomik inilah yang menurut Abdurrahman Mas’ud sebagai penyebab ketertinggalan pendidikan Islam. Hingga kini pendidikan Islam masih memisahkan antar akal dan wahyu, serta fakir dan zikir. Hal ini menyebabkan adanya ketidakseimbangan paradigmatik, yaitu kurang berkembangnya konsep humanisme religius dalam dunia pendidikan Islam, karena pendidikan Islam lebih berorientasi pada konsep ‘abdullah (manusia sebagai hamba), ketimbang sebagai konsep khalifatullah (manusia sebagai khalifah Allah).

 

Selain itu orientasi pendidikan Islam yang timpang tindih melahirkan masalah-masalah besar dalam dunia pendidikan, dari persoalan filosofis, hingga persoalan metodologis.

 

Di samping itu, pendidikan Islam menghadapi masalah serius berkaitan dengan perubahan masyarakat yang terus menerus semakin cepat, lebih-lebih perkembangan ilmu pengetahuan yang hampir-hampir tidak memeperdulikan lagi sistem suatu agama.

 

Kondisi sekarang ini, pendidikan Islam berada pada posisi determinisme historik dan realisme. Dalam artian bahwa, satu sisi umat Islam berada pada romantisme historis di mana mereka bangga karena pernah memiliki para pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan besar dan mempunyai kontribusi yang besar pula bagi pembangunan peradaban dan ilmu pengetahuan dunia serta menjadi transmisi bagi khazanah Yunani, namun di sisi lain mereka menghadapi sebuah kenyataan, bahwa pendidikan Islam tidak berdaya dihadapkan kepada realitas masyarakat industri dan teknologi modern.

 

Hal ini pun didukung dengan pandangan sebagian umat Islam yang kurang meminati ilmu-ilmu umum dan bahkan sampai pada tingkat “diharamkan”. Hal ini berdampak pada pembelajaran dalam sistem pendidikan Islam yang masih berkutat apa yang oleh Muhammad Abed al-Jabiri, pemikir asal Maroko, sebagai epistemologi bayani, atau dalam bahasa Amin Abdullah disebut dengan hadharah an-nashsh (budaya agama yang semata-mata mengacu pada teks), di mana pendidikan hanya bergelut dengan setumpuk teks-teks keagamaan yang sebagian besar berbicara tentang permasalahan fikih semata.

 

Terjadinya pemilahan-pemilahan antara ilmu umum dan ilmu agama inilah yang membawa umat Islam kepada keterbelakangan dan kemunduran peradaban, lantaran karena ilmu-ilmu umum dianggap sesuatu yang berada di luar Islam dan berasal dari non-Islam atau the other, bahkan seringkali ditentangkan antara agama dan ilmu (dalam hal ini sains). Agama dianggap tidak ada kaitannya dengan ilmu, begitu juga ilmu dianggap tidak memeperdulikan agama. Begitulah gambaran praktik kependidikan dan aktivitas keilmuan di tanah air sekarang ini dengan berbagai dampak negataif yang ditimbulkan dan dirasakan oleh masyarakat.

 

Sistem pendidikan Islam yang ada hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama saja. Di sisi lain, generasi muslim yang menempuh pendidikan di luar sistem pendidikan Islam hanya mendapatkan porsi kecil dalam hal pendidikan Islam atau bahkan sama sekali tidak mendapatkan ilmu-ilmu keislaman.

 

Dari berbagai persoalan pendidikan Islam di atas dapat ditarik benang merah problematika pendidikan Islam yaitu:

 

  1. Pertama, masih adanya problem konseptual-teoritis atau filosofis yang kemudian berdampak pada persoalan operasional praktis.
  2. Kedua, persoalan konseptual-teoritis ini ditandai dengan adanya paradigma dikotomi dalam dunia pendidikan Islam antara agama dan bukan agama, wahyu dan akal serta dunia dan akhirat
  3. Ketiga, kurangnya respon pendidikan Islam terhadap realitas sosial sehingga peserta didik jauh dari lingkungan sosio-kultural mereka. Pada saat mereka lulus dari lembaga pendidikan Islam merka akan mengalami social-shock.
  4. Keempat, penanganan terhadap masalah ini hanya sepotong-potong, tidak integral dan komprehensif

 

Solusi Problematika Pendidikan Agama Islam

 

Solusi Problematika Pendidikan Islam saat ini mencermati kenyatan tersebut, maka mau tidak mau persoalan konsep dualisme-dikotomik pendidikan harus segera ditumbangkan dan dituntaskan, baik pada tingkatan filosofis-paradigmatik maupun teknis departementel. Pemikiran filosofis menjadi sangat penting, karena pemikiran ini nanti akan memeberikan suatu pandangan dunia yang menjadi landasan idiologis dan moral bagi pendidikan.

 

Pemisahan antar ilmu dan agama hendaknya segera dihentikan dan menjadi sebuah upaya penyatuan keduannya dalam satu sistem pendidikan integralistik. Namun persoalan integrasi ilmu dan agama dalam satu sistem pendidikan ini bukanlah suatu persoalan yang mudah, melainkan harus atas dasar pemikiran filosofis yang kuat, sehingga tidak terkesan hanya sekedar tambal sulam. Langkah awal yang harus dilakukan dalam mengadakan perubahan pendidikan adalah merumuskan “kerangka dasar filosofis pendidikan” yang sesuai dengan ajaran Islam, kemudian mengembangkan secara “empiris prinsip-prinsip” yang mendasari terlaksananya dalam konteks lingkungan (sosio dan kultural)Filsafat Integralisme (hikmah wahdatiyah) adalah bagian dari filsafat Islam yang menjadi alternatif dari pandangan holistik yang berkembang pada era postmodern di kalangan masyarakat barat.

 

Inti dari pandangan hikmah wahdatiyah ini adalah bahwa yang mutlak dan yang nisbi merupakan satu kesatuan yang berjenjang, bukan sesuatu yang terputus sebagaimana pandangan ortodoksi Islam. Pandangan Armahedi Mahzar, pencetus filsafat integralisme ini, tentang ilmu juga atas dasar asumsi di atas, sehingga dia tidak membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum, ilmu Tuhan dan ilmu skular, ilmu dunia dan ilmu akhirat. Dari pandangan dia tentang kesatuan tersebut juga akan berimplikasi pula pada pemikiran Armahedi pada permasalahan yang lain, termasuk juga pendidikan Islam.

 

Bagi Armahedi, pendidikan Islam haruslah menjadi satu kesatuan yang utuh atau integral. Baginya, manusia-manuisa saat ini merupakan produk dari pemikiran Barat Modern yang mengalami suatu kepincangan, karena merupakan suatu perkembangan yang parsial. Peradaban Islam adalah contoh lain. Keduanya dapat ditolong dengan membelokkan arah perkembangannya ke arah perkembangan yang evolusioner yang lebih menyeluruh dan seimbang. Hanya ada beberpa sisi saja dari kehidupan manusia yang dikembangkan. Begitu juga halnya dengan masyarakat yang ada, pada hakikatnya adalah cerminan dari satu sistem pendidikan yang ada saat itu.

 

Masyarakat saat ini adalah masyarakat materialis yang dapat dibina dengan menggunakan suatu mesin raksasa yang bernama teknostrutur. Di sini ada satu link yang hilang, yaitu spiritualisme. Dengan demikian, pendidikan sebagai produksi sistem ini haruslah mengembangkan seluruh aspek dari manusia dan masyarakat sesuai dengan fitrah Islam, yaitu tauhid.

 

Pandangan filosofis inilah yang menjadikan pentingnya kajian terhadap pemikiran Armahedi Mahzar tentang sistem pendidikan Islam integratif, karena permasalahan pendidikan sebenarnya terletak pada dua aspek, filosofis dan praktis. Persoalan filosofis ini yang menjadi landasan pada ranah praktis pendidikan. Ketika ranah filosofis telah terbangun kokoh, maka ranah praktis akan berjalan secara sistematis. Dengan demikian, filsafat integralisme atau hikmah wahdatiyah nantinya akan menjadi landasan idiologis dalam pengembangan sistem pendidikan integratif.

 

BAB III

 

PENUTUP

 

Kesimpulan

 

Dari sekian banyak uraian yang telah penulis tuangkan, dapatlah penulis simpulkan, hal-hal sebagai bertikut :

 

Sesungguhnya problematika pendidikan yang ada sekarang ini lebih terletak pada ketidak jelasan tujuan yang hendak di capai, ketidak serasian kurikulum terhadap kebutuhan masyarakat, kurangnya tenaga pendidik yang berkualitas dan profesional, terjadinya salah pengukuran terhadap hasil pendidikan serta masih belum jelasnya landasan yang di pergunakan untuk menetapkan jenjang-jenjang tingkat pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga keperguruan tinggi.

 

Solusi yang penulis tawarkan dalam mencari pemecahan masalah , adalah perlunya meninjau dan merumuskan kembali secara realistis terhadap problematika yang sedang dihadapi oleh dunia pendidikan kita selama ini.

 

Wahai kaum Muslim, apakah sistem pendidikan sekuler yang rusak dan bobrok saat ini akan terus kita pertahankan? Apakah sistem pendidikan yang buruk lagi gagal ini akan terus kita lestarikan?

 

Marilah kita bergegas membangun sistem pendidikan Islam, dalam negara Khilafah, yang akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam. Generasi inilah yang akan mampu mewujudkan kemakmuran dan kemuliaan peradaban manusia di seluruh dunia. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Muhammad Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Suatu Rangka pikirPembinaan Filsafat Pendidikan Islam; Terjemahan Haidar Bagir, cet. Ke-4 ( Bandung:Mizan,l992),h.7.

 Zainal Abidin Ahmad, Memperkembang dan Mempertahankan Pendidikan Islam di Indonesia, cet.ke-1 (Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1970 ),h.15.

 

Hasta,1980),h.159.

 

Siti Meichati, Pengantar Ilmu Pendidikan (cet.ke-11;Yogyakarta: Penerbit FIP-IKIP,1980),6.

 

 Ali Saifullah, Antara Filsafat dan Pendidikan (Surabaya-Indonesia:Usaha Nasional, tt.),h. 135.

 

  S.Wojowasito-W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia ( cet.ke-3; Bandung:Penerbit [6] Lihat Burlian Somad, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Is r, D., & Taylor, P. C.,1995. The effect of culture on the learning of science in non-western countries: the result of an integrated research review. International Journal of Science Education, 17(6), 695-704.

 

Cobern, W. W., 1994. Constructivism and non-Western science education research. International Journal of Science Education(16), 1-16.

 

Cobern, W. W., 1996. Worldview theory and conceptual change in science education. Science Education, 80(5), 579-610.

 

Sukmadinata, 1997. Pengembangan kurikulum: Teori dan praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya

Dipublikasi di tafsirilmu | Meninggalkan komentar

Sudah bersyukurkah anda hari ini?


 Sudah bersyukurkah anda hari ini?Saya tanya! Mungkin ada yang menjawab, “Syukur? Kenapa? Wong saya hari ini biasa-biasa saja. Ndak ada yang istimewa.” Ada juga yang menjawab, “Sudah” ya baguslah kalau begitu. Kalau yang menjawab seperti jawaban pertama tadi kemungkinan beranggapan bahwa bersyukur adalah setelah menerima nikmat. Kalau tidak menerima ngapain bersyukur? Semoga anda bukan termasuk yang ini, yach. Yen tak pikir-pikir (niru logat alm. Mas Basuki), setiap hari kita mendapat kenikmatan. Coba lihat, anda mempunyai lemari es, mempunyai buku tabungan (walau saldonya bulan depan habis karena terpotong biaya administrasi. Hehehe), mempunyai pekerjaan tetap (tetap itu-itu aja pekerjaannya.hehe), bisa menjalankan kegiatan ibadah tanpa takut terhujani peluru atau rudal dari pasukan NATO, bisa membaca tulisan saya ini, bukankah itu kenikmatan yang saban hari kita rasakan? Kenapa tidak bersyukur? Why? Lupa? Padahal Tuhan tak pernah lupa memberi kenikmatan kepada kita?

Kalau anda rajin sholat, saya yakin anda termasuk orang yang bersyukur dengan ucapan dan tindakan. Kok bisa sholat merupakan syukur dengan ucapan? Sebab, setiap kita sholat wajib membaca al-Fatihah dan Surat Al-Fatihah didahului dengan lafadz “Alhamdulillah” (setelah membaca bismillah tentunya).

Lalu, apakah benar bersyukur itu setelah kita menerima nikmat? Atau sebelum menerima nikmat kita bersyukur? Saya tidak tahu mana yang benar. Yang jelas, kalau kita cermati tadi bahwa al-Qur’an yang dimulai dengan surat al-Fatehah menggunakan lafadz “Alhamdulillah” sebagai pembuka (tentunya setelah menyebut asma Tuhan Yang Maha Kasih dan Sayang). Begitu juga dalam berdoa, kita baca lafadz “Alhamdulillah” dulu baru berdoa alias bersyukur dulu baru meminta. Tapi, kebanyakan dari kita, meminta dulu, dikabulkan, baru bersyukur. Tak apa. Yang penting masih bersyukur.

Dalam al-Qur’an Allah mengingatkan kita supaya bersyukur, jangan kufur (menginkari nikmat). Begitu juga Nabi Muhammad Saw dalam berdoa selalu memohon kepada Allah supaya dijadikan ‘abdan syakura. Hamba yang bersyukur. Klop, pas, cocok. Allah memerintah untuk bersyukur dan Nabi mencontohkan dalam do’a supaya dijadikan hamba yang bersyukur.

Lalu apakah ada implikasi atau pengaruh bersyukur terhadap jiwa kita, pekerjaan kita, karir kita, kesuksesan kita? ADA. Dengan huruf besar semua biar mantab. Mau bukti? Mungkin anda pernah mendengar tentang Kristal air. Yups, air mempunyai Kristal-kristal kecil yang bias berubah bentuk mengikuti kata-kata yang dilontarkan manusia. Dalam buku The Hidden Messages in Water dituliskan bahwa air seolah-olah mengerti bahasa manusia. Dan tahukah anda kapan Kristal air memperagakan bentuknya yang paling apik, yahut dan menarik? Ternyata apabila dikumandangkan kata ‘syukur’ dan ‘cinta’ dalam bahasa apapun. Termasuk bahasa hewan jika anda paham dan bisa. Hehehe.

Lalu pengaruhnya terhadap keseharian kita? Air. Ada apa dengan air? Untung saja zodiak saya adalah pembawa air alias aquarius. Bukan penjual air keliling lho. Jadi, apa yang saya bawa tergantung anda yang menerima. Kalau anda menerima dengan syukur maka akan terbentuk Kristal-kristal air yang menakjubkan. Tapi, jika anda sinis, marah-marah, maka anda akan membentuk Kristal air yang tak beraturan dan jelek, buruk mirip wajah anda. Hahaha. Bercanda. Mulai serius. Air. Semua kehidupan bermula dari air. Manusia berasal dari percampuran air. Alam semesta berasal dari air. Dan yang terpenting, 70 persen tubuh manusia terdiri atas air! SO, Setiap kali kita menyebut kata ‘syukur’ atau menyimpan rasa syukur, maka kita juga membentuk Kristal-kristal air cantik dalam tubuh kita sehingga menimbulkan energi positif yang sangat kita butuhkan untuk menggapai kesuksesan.

Jadi, bisa dikatakan kalau pingin sukses, rajin-rajin bersyukur. Syukur adalah gerbang menuju sukses. Kok bisa? Ya bisa. Bukti konkritnya adalah Nabi Muhammad. Seorang yang pandai bersyukur akhirnya sukses menjadi seorang nabi dengan pengikut terbanyak dan kata-katanya masih dihapal oleh umatnya. Dalam bahasa Indonesia kata ‘syukur’ berarti berterima kasih. Sebagai hamba Tuhan kita berterima kasih kepadaNya. Sebagai makhluk sosial kita berterima kasih kepada manusia yang berbuat baik dan berbaik hati kepada kita. Rumusnya ==> jika pingin sukses jangan sungkan-sungkan mengucapkan terima kasih. Membalas sesuatu kebaikan dengan ucapan ‘terima kasih’ itu berdampak sangat besar untuk kehidupan kita. Coba jika kita telah berbuat baik kepada orang tapi dia tidak mengucap ‘terima kasih’ pasti tuk berikutnya kita akan malas membantu. Betul?

Saking dahsyatnya kata ‘terima kasih’ ini, kasir-kasir di supermarket dan mall-mall dituntut untuk mengucapkan kata ‘terima kasih’ kepada konsumennya. Sampai-sampai ada yang berani membayar ratusan ribu rupiah jika kasir tidak mengucapkan kata ‘terima kasih’. Entah setelah itu kasir dipecat. Hehe. Sebab mereka, pelaku bisnis, tahu bahwa ucapan terima kasih berdampak besar terhadap omzetnya. So, jika kita pingin sukses dan memperbesar karir atau pekerjaan kita. Jangan sungkan-sungkan mengucapkan ‘terima kasih’. Setelah itu, pasti akan ada dampak yang besar. Sebab, Tuhan berfirman, “Jika kamu bersyukur (mengucapkan terima kasih) , maka akan Aku tambahi (nikmat)”. Saya sering melihat supporter Persikmania (Persik Kediri) ketika berada di Stadion Manahan. Mereka sebelum dan sesudah pertandingan menyanyikan “Terima kasih Pasoepati. Kita adalah saudara” dan pertandingan berjalan sukses tanpa kerusuhan.

Itulah, dahsyatnya berterima kasih. Berterima kasih kepada manusia berdampak luar biasa, apalagi berterima kasih kepada Allah, Sang Pencipta Alam.

Wallahu a’lam bishowab

Dipublikasi di tafsirilmu | Meninggalkan komentar

Materikultum puasa ke 2


Alhamdulillah, marilah kita selalu memanjatkan puji dan syukur keharibaan Allah SWT, Tuhan yang nikmat-nikmatNya dicurahkan kepada kita tak terhitung oleh bilangan dan kalimat, oleh karena itu, kenikmatan yang telah kita terima ini harus kita syukuri dengan cara menggunakan hidup ini dengan sebaik- baiknya. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan pada Nabi Agung Muhammad SAW, Nabi akhir zaman yang selalu kita jadikan suri tauladan.

Hadirin yang berbahagia

Kita telah berada pada bulan yang sangat mulia, yaitu bulan Ramadhan. Marilah kita menyambut bulan ini dengan bahagia dan antusias dalam beribadah. Sebab oraang yang gembira atas datangnya Ramadhan, Allah mengharamkan tubuhnya masuk neraka. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad:

من فرح بدخول رمضان حرم الله جسده على النيران

Artinya: “Barangsiapa yang gembira menyambut datangnya Ramadhan maka Allah mengharamkan jasadnya atas neraka.”

Apalagi dalam bulan Ramadhan ini Allah Swt mengobral pahala. Pahala dalam beribadah dilipatgandakan oleh Allah. Sampai-sampai tidurnya orang yang puasa dicatat sebagai ibadah. Sehingga orang yang mengetahui akan fadhilah atau keutamaan bulan Ramadhan ini, niscaya mereka akan meminta untuk menjadikan semua bulan seperti bulan Ramadhan.
Sebagaimana hadis dari Ibnu Abbas, ia mendengar Rasul bersabda:

لوتعلم امتى ما فى رمضان لتمنوا ان تكون السنة كلها رمضان. لأن الحسنة فيه مجتمعة والطاعة مقبولة والدعوات مستجابة
والذنوب مغفورة والجنة مشتاقة لهم

Artinya: “Andaikata umatku tahu tentang sesuatu yang tersembunyi di bulan Ramadhan, niscaya mereka mengharap seluruh bulan dalam setahun menjadi bulan Ramadhan. Sebab ia menghimpun   segala kebaikan dan taat yang dikabulkan, doa-doa dipenuhi (mustajab), segala dosa diampuni dan syurga merindukan mereka.

Hadirin wal hadirot jamaah sholat tarawih yang berbahagia

Oleh karena itu marilah kita hadapi  bulan Ramadhan ini dengan semangat beribadah supaya kita bisa mencapai derajat taqwa sebagaimana firman Allah:

Artinya ;” Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Hadirin wal hadirot jamaah sholat tarawih yang berbahagia,

Untuk memperoleh predikat taqwa ini kita harus melakukan persiapan yang cukup, dan mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan yang baik dan mensikapinya dengan benar. Minimal ada 3 hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong bulan ramadlan yang penuh berkah ini,
Pertama, Persiapan ruh dan jasad. Kita tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu kita dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan.

Kedua, Persiapan materi. Kita sebelumnya mengusahakan selama 11 bulan kita menabung dan pada bulan Ramadhan kita tidak akan ngoyo untuk mengejar rejeki sehingga kita di bulan puasa ini bisa beribadah secara khusyu’ dan maksimal. Bulan Ramadhan merupakan bulan santunan sangat dianjurkan memberi santunan, sedekah, infaq kepada orang lain, betapapun kecilnya. Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai.

Ketiga, Persiapan akal fikiran. Persiapan akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka. Atau bisa juga dalam bulan Ramadhan ini akal kita diisi dengan ilmu-ilmu agama yang bisa kita peroleh melalui pengajian-pengajian, kultum, dan lain sebagainya.

Hadirin wal hadhirot yang berbahagia,
Kiranya itu saja yang bisa saya sampaikan dalam kultum malam ini. Semoga kita benar-benar telah mempersiapkan diri kita untuk menjalankan ibadah di bulan yang penuh berkah ini. Semoga Allah memberikan ma’unah-Nya kepada kita sehingga kita bisa melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini dengan lancar dan mendapat pahala di sisi-Nya. Amin.

Dipublikasi di tafsirilmu | Meninggalkan komentar