Edisi Renungan! By: Ubed


Saya mencoba memahami…

mengapakah sampai terjadi..

Mahasiswa bunuh diri

Mahasiswa jual diri

Mahasiswa stress pingsan tak sadar diri

Mahasiwagalau melampiaskan hasrat diri..

tidak salah kalau Van Libniez mengatakan,

sekarang kita punya Tuhan banyak..!

Tuhan Uang, Tuhan Jabatan,Tuhan konsumerisme, Tuhan tayangan TV,

Tuhan pekerjaan, dan masih banyak Tuhan-Tuhan yang lain..

Dan ini yang ditakutkan oleh Nabi Ibrahim…

yang mana beliau mohon diselamatkan Allah dari BERHALA-BERHALA…

Engkau mungkin menolak dengan tegas jika apa yang kutulis diatas dikatakan

Tuhan banyak!

Meski kenyataan yang engkau lakukan,

bagaimana engkau bersikap terhadap mereka,

bagaimana engkau memperlakukan mereka,

dan bagaimana mereka mengisi seluruh relung hatimu,

bagaimana mereka memenuhi ruang kosong dalam hatimu

telah mengiyakan bahwa mereka adalah Tuhanmu…

dan ketika kampus  menjadi fokus..

seolah tak ada lain yang bagus..

seolah ditangan kampuslah hidup kita akan menjadi lurus

dan dengan kampus kita akan menjalankan hidup ini dengan mulus…

Saat itulah kampus menjadi segala-galanya bagimu..

menjadi panduan hidupmu..

menjadi acuan keberhasilan dirimu..

menjadi gantungan kesuksesan masadepanmu..

seolah-olah hanya kampuslah hidup itu.

hidup adalah kampus dan kampus itulah hidup..

Lalu bukankah saat itu Tuhanmu sudah beralih menjadi Tuhan kampus ?!

Tidakkah kamu menghitung, berapa banyak orang yang sukses tanpa melalui kampus ?

dan ..Tidakkah kamu menghitung, berapa banyak pengangguran setelah kuliah?

nilai bagus, menjadi Tuhan tersendiri…

Anak cabang Tuhan kampus..

maka apapun akan ditempuh untuk mendapatkan nilai yang bagus..

kalau perlu menyewa avanza..

kalau perlu membayar pada Dosen..

kalau perlu memberikan semua apa yang ada…

segalanya…segalanya demi nilai yang bagus..

sayang..nilai bagus bukan jaminan sorga brooo..

he..he..he

kalau alumninya berhasil “jadi Orang” alias jadi pekerja, maka kampus akan

mengatakan..lihatlah !! itulah lulusan kami…dengan banggannya!

tapi mengapa kampus tidak berkata begitu jika banyak yang menganggur..!!

ada yang jadi penjahat dan masuk di penjara ! ada yang korupsi ! ada yang membunuh ! ada yang jadi tukang beca! bahkan ada yang berzina!Naudzubillah!

kalau kampus berani mengatakan bahwa seseorang yang berhasil itu adalah karena lulusannya dan karena kampus ditempat dia, mengapa kampus tidak berani mengatakan bahwa orang-orang yang korupsi! yang bertindak kriminal dan jahat, pembunuh, pencuri yang dulu pernah dikampus di tempat itu juga hasil dari didikan dia ??!!!

Barak Obama kecil adalah seorang pendiam, agak goblok dikelas. tapi ketika dunia diguncangkan dengan kiprahnya, siapakah yang berani mengklaim bahwa apa yang dilakukan barak Obama itu hasil pendidikan di kampus?

Einsten, penjaga kantor pos –katanya.tidak pernah menjalani belajar fisika yang mendalam.

Lalu apakah hasil kampus yang menjadikan dia menemukan relativitasnya?

Isaac Newton ketika melihat apel jatuh dan kemudian menemukan hukum2

fisika.apakah hasil kampus yang membuat dia berpikir seperti itu?

kalau iya, mengapakah yang lainnya tidak berpikir seperti itu?

Soekarno itu lulusan sekolah arsitek dan bukan lulusan sekolah negarawan apalagi

lulusan sekolah orator… dan Ibu Kartini tidak pernah mengenyam sekolah feminisme..

Ironis !

di satu sisi semua akan menerima jika dikatakan kampus bermanfaat buat mahasiswanya.

dan mungkin tidak akan ada yang mau menerima jika dikatakan kampus itu tidak

bermanfaat dan tidak mencerdaskan bagi mahasiwanya..

Tapi paling tidak kampus bukanlah segala-galanya..

dan ia bukanlah Tuhan yang menguasai kehidupan kita..

ia bukanlah Tuhan yang layak untuk dimasukkan ke dalam hati..menguasai hati dan

menjadikan hidup berakhir ketika gagal di kampus..

 

renungankanlah sobat ..!


Sudahkah kita me
ngetahui pendidikan secara mendalam ?

ataukah hanya sebuah pembodohan dalam bentuk lain?

Cita-cita bangsa Indonesia…Pembukaan UUD 45,

“…mencerdaskan bangsa..”

Sudahkah ?

Tentang ubedindonesia2014

Demi mewujudkan keinginan menulis yang kreatif dan idealis, segala informasi yang diperkirakan menarik, pasti akan segera dipublikasikan, sehingga dapat menambah jumlah kuantitas isi tulisan. Namun penulis tidak hanya sekedar asal menulis, tetapi selalu mempertahankan kualitas isi tulisan, agar tiap informasi yang ada dapat dimanfaatkan dengan seksama.
Kutipan | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s