PATOLOGI JIWA !


PATOLOGI JIWA !

 

Oleh : M. Abdul Aziz*

=========================================================

Sepakat kiranya untuk mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk paling rumit. Apa yang dipikirkan dan dilakukannya tidak dapat ditebak secara pasti sebagaimana tebakan itu dikenakan pada binatang.

Pilihan bebas orang untuk berbuat adalah salah satu sumber kompleksitas tersebut. Kadang dalam pilihan itu, orang punya rasionalitas sendiri sehingga dia merasa nyaman melakukan apa yang dikehendakinya.

Coba saja tanyakan pada seorang pencuri, mengapa dia tidak sungkan untuk mengambil sandal jamaah di mesjid. Jawaban pembenaran diri yang diberikannya adalah, bahwa jika tidak mencuri dia tidak akan dapat memberi makan keluarganya.

 Begitu juga jika pertanyaan serupa ditanyakan pada seorang pelacur, mengapa dia berbuat begitu. Jawaban pembenarannya kadang bahwa keahlian tidak dipunya, sedang hidupsusah adanya.

Jika pertanyaan semacam itu terus ditanyakan kepada sekian banyak orang yang berbuat salah, maka beragam jawaban pembenaranlah yang akan mereka berikan. Termasuk tindak kekerasan atas nama agama, rasionalitas tidak pernah absen menyertai tindakan mereka.

Susah memang, karena disamping fitrahnya manusia itu tidak seragam, secara individu egoisme manusia juga memiliki dunianya sendiri yang kadang sulit diajak berdamai dengan aturan sosial kemasyarakatan.

Kekisruhan yang terjadi di Negara Kita; baik dalam kasus sepakbola, korupsi uang pajak, Bank Century, peradilan palsu, anggota DPR nyambi, sabuisme dan Narkoba di kalangan para artis, politik transaksional, dan lain-lain, pemicunya adalah karena mereka mendapat pembenaran untuk melakukannya.

Dapat dikata bahwa semua ini adalah PATOLOGI JIWA!. Fenomena penyakit jiwa ini kemudian diikuti oleh saling tuduh dan menyalahkan. Sasaran empuknya adalah pemerintah.

Semua orang merasa dibenarkan untuk memaki, memfitnah, sumpah serapah, mengkafirkan, bahkan menebarkan ancaman pembunuhan tanpa berusaha menelanjangi diri bahwa dia sendiri merupakan bagian dari fenomena orang sakit jiwa.

Kalau sudah demikian, dikenallah fenomena ini dengan lingkaran sakit jiwa. Fenomena yang sudah tidak jelas lagi mana haluan dan mana buritan, mana sebab mana dan  akibat mana putih dan mana hitam, Maka usulan penawar normatif untuk fenomena ini adalah kembali ke diri sendiri. Dan usulan radikalnya adalah pemutusan generasi dengan menguatkan pendidikan dalam keluargadan di pendidiikan di akademik Nya.

Rasionalisasi, atau pembenaran tindakan yang salah itu sebenarnya dapat dikenali. Caranya mudah. Berhenti banyak bicara, dan belajarlah untuk banyak mendengarkan. Selama ini suara hati itu sirna karena kita tidak memberinya kesempatan untuk bicara.

Kita bangga mengumbar suara dengan retorika palsu. Berharap dapat tepuk tangan , pujian dan perhatian dari kata-kata semu bahwa tidak ada harga yang tidak kita bayar. Kita telah menguburnya. Sekarang dengarkanlah ia!

Hargai ucapannya, kemudian konsistenlah melaksanakannya. Dalam bahasa agama istiqamahlah. Istiqamah dalam arti selalu memenangkan suara hati untuk jadi pemandu tindakan kala ada tawaran pembenaran dari panduan tindakan lain yang salah.

 Maka orang yang sehat jiwanya adalah orang yang segala tindakannya dipandu oleh suara hatinya.

Kemudian pendidikan keluarga. Anak-anak merupakan generasi masa depan. Panggung pentas kehidupan nanti merekalah pengisinya. Sedari dini, baik nilai-nilai agama, ataupun nilai yang bersumber dari filsafat hidup manusia, tanam dan biasakanlah ia berkembang bersama mereka.

Biasakan mereka merasa tersiksa sakit jika melanggar nilai-nilai tersebut. Akademik yang merupakan lingkungan kedua mereka juga hendaknya melaksanakan transfer nilai ini dalam segenap pembelajaran. Kejujuran, kesabaran, profesionalisme, kedisiplinan, keberanian, dan nilai-nilai lain masuk dalam setiap materi mata pelajaran apa saja yang ia dapatkan.

Dan dalam pelaksanaannya, ketegasan seorang Dosen sangat dibutuhkan agar nilai-nilai tersebut aman dari pelanggaran. Pada dasarnya kita semua sudah cukup bekal untuk mengarungi hidup dengan bijak.

Hanya saja, kepentingan diri, nafsu ilusif, dan segala keinginan lacur lainnya menyimpangkan kita dari meniti jalan sesuai dengan bekal yang kita punya. Dan titik lemahnya adalah ketidakmampuan kita untuk mengelak dari rasionalitas tindakan.

Sebagaimana Socrates mengatakan, bahwa pengetahuan yang benar itu semestinya menuntun seseorang pada tindakan yang benar. Banyak orang yang tahu kalau korupsi itu salah, tetapi tetap korupsi juga.

Berkaca dari ungkapan Socrates di atas, pada hakikatnya orang yang tetap korupsi meski mengetahui bahwa korupsi itu salah, sebenarnya dia tidak tahu!Wallahua’lam bi al-showab.

Tentang ubedindonesia2014

Demi mewujudkan keinginan menulis yang kreatif dan idealis, segala informasi yang diperkirakan menarik, pasti akan segera dipublikasikan, sehingga dapat menambah jumlah kuantitas isi tulisan. Namun penulis tidak hanya sekedar asal menulis, tetapi selalu mempertahankan kualitas isi tulisan, agar tiap informasi yang ada dapat dimanfaatkan dengan seksama.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke PATOLOGI JIWA !

  1. ubedlampung2014 berkata:

    Indonesia selalu saja begitu…ya begitu…postinganya bagus. makasih Maz.

  2. ubedlampung2014 berkata:

    Setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu BangetttttttttttttttttttttMaz….Bagus. ditunggu artikelyang lainya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s