Banyak Anak Banyak Rezeki, ataukah anak 2 cukup…?


Banyak Anak Banyak Rezeki, ataukah anak 2 cukup…?

 

Sering kita dengar pepatah banyak anak banyak rezeki, apabila ditinjau dari sudut agama hal itu memang benar adanya karena setiap anak yang lahir ke muka bumi dibekali oleh sang pencipta dengan rezeki yang juga berbeda-beda. Namun dalam sistem kependudukan dengan memiliki banyak anak malah akan menambah beban, baik bagi orang tua dalam peran sebagai keluarga maupun bagi negara dalam peranya dalam sistem kependudukan.

Bagi orang tua yang memiliki banyak anak, pastilah akan menanggung beban hidup yang lebih besar, baik itu dalam segi kebutuhan hidup (sandang pangan, pakaian, menikah, dll), pendidikan, dan kebutuhan tak terduga lainnya yang nanti akan dibutuhkan sang anak. Negara pun ikut menerima imbas dari banyaknya angka kelahiran dalam masyarakatnya, pasti akan sangat banyak masalah yang akan dialami oleh negara tersebut, apalagi apabila negara tersebut masih tergolong negara terbelakang maupun berkembang sekalipun. Pada sektor lapangan pekerjaan, lahan untuk tempat tinggal, dan sarana-sarana umum pun pasti akan mengalami pembengkakan seiring dengan semakin pesatnya laju perkembangan penduduk.

Hal ini menyebabkan beberapa negara yang memiliki jumlah penduduk yang banyak mengalami sedikit kesulitan dalam beberapa bidang, terutama dalam masalah lapangan pekerjaan dan tempat tinggal yang seiring. Salah satu contohnya adalah negara Cina, dengan kepadatan penduduknya yang luar biasa pemerintah cina mulai memberlakukan peraturan kepada masyarakatnya untuk memiliki satu anak saja, tujuannya antara lain adalah untuk mendorong angka kelahiran menjadi semakin kecil. Cina sadar akan semakin sempitnya negara mereka seiring bertambahnya jumlah penduduk, maka dari itu keputusan seperti itu memang harus diambil demi terjaganya stabilitas disemua lini pada suatu negara.

Hal seperti itu seyogyanya patut diterapkan di negara kita, Indonesia. Bukan berarti program KB (Keluarga Berencana) dengan slogan 2 anak lebih baik yang diterapkan di Indonesia itu tidak berjalan dengan baik, namun  ketidak sadaran dan kurang disiplinnya masyarakat lah yang masih kurang sehingga program KB tersebut pun kurang berjalan dengan baik. Apa sebenarnya yang terjadi? apakah masyarakat ingin melestarikan tradisi nenek moyang yang berkata bahwa banyak anak banyak rezeki dan juga berlandaskan ajaran agama? ataukah ada kesalahan dalam penggunaan alat kontrasepsi yang dipakai?

Ini menjadi tugas besar yang mesti dikaji bersama oleh pemerintah juga masyarakat, karena tanpa adanya keterlibatan antara kedua belah pihak tidak akan ada hasil yang signifikan untuk mewujudkan manajemen kependudukan di Indonesia menjadi lebih baik. Sayangnya memang masih hanya segelintir orang yang menyadarinya, bahkan perbedaan strata pendidikan dan sosial yang ada dimasyarakat pun tidak menjadi jaminan akan memahami pentingnya program KB yang digalakan pemerintah. Masih ada masyarakat dengan strata pendidikan sarjana dan strata sosial yang baik tidak memberlakukan program tersebut, mereka seakan ketagihan untuk terus menerus “memproduksi” anak. Disiplin, seharusnya segera di terapkan di Indonesia agar semua urusan dapat berjalan dengan lebih lancar.

Tentang ubedindonesia2014

Demi mewujudkan keinginan menulis yang kreatif dan idealis, segala informasi yang diperkirakan menarik, pasti akan segera dipublikasikan, sehingga dapat menambah jumlah kuantitas isi tulisan. Namun penulis tidak hanya sekedar asal menulis, tetapi selalu mempertahankan kualitas isi tulisan, agar tiap informasi yang ada dapat dimanfaatkan dengan seksama.
Pos ini dipublikasikan di tafsirilmu. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s